Beberapa hari lalu, bos saya tiba-tiba lempar
pertanyaan di grup Whatsapp kantor. Pertanyaannya begini kira-kira:
“Guys, mau tanya kalau ada waktu.
KEBAHAGIAAN IKU OPO?.”
Beberapa rekan saya menjawab dengan cepat. Ada yang jawab
bahagia itu hanya ilusi (ini entah serius, entah bercanda, atau curhat ya?).
Ada juga yang jawab kebahagiaan itu semu (pelangi dong ya; semu). Oh! Ada juga
yang jawab kebahagiaan itu gak perlu dicari, yang perlu dicari adalah tentrem
(ketentraman).
Saya sendiri gak ikut menjawab. Namun, dari sekian banyak
rekan kerja saya yang jawab pertanyaan tersebut, ada satu yang jawabannya yang
menarik buat saya.
“Kebahagiaan itu adalah ketika
kita content. Benar-benar gak pengen
apa-apa. Merasa cukup.”
Kebahagiaan itu adalah ketika kita ga mesti cari-cari
lagi, ketika kita sudah merasa cukup sama apa yang kita punya dan kita raih. Lewat
definisi ini juga bisa dijelaskan bahwa kebahagiaan itu relatif karena konsepsi
content tiap orang juga beda-beda.
Ada yang puas ketika punya mainan baru, ada yang puas kalau bisa makan enak
bareng keluarga. Tiap orang berbeda level kepuasaannya. Cuma namanya manusia,
terkadang ketika kepingin-kepinginnya kita itu sudah tercapai dan puas, eh
muncul lagi kepingin-kepingin lainnya yang akhirnya menjauhkan kita dari
perasaan content itu tadi. Apalagi
belakangan ini juga makin banyak motivator yang sering bilang “set your own goal”, di mana kita
diberikan pikiran bahwa semua orang harus punya goal atau tujuan atau suatu
pencapaian di hidupnya. Bahwa apa yang sekarang kita miliki itu belum cukup,
harus ada hal lagi yang diraih dan dicapai, terus dan terus sampai nanti mati.
Seperti begitulah kira-kira. Bukan bermaksud untuk bilang bahwa membuat suatu tujuan
hidup itu keliru. Hanya saja saya cuma mau kalian bayangin kalau tiap kita
membuat suatu tujuan, kemudian tujuan itu tercapai, alih-alih kita bahagia dan
merasa content, kita justru tetap dibayang-bayangi sama perasaan butuh pada hal lain,
dan dicapai. Pada akhirnya justru
kebahagiaan itu jadi semu, jadi perasaan yang mengada-ada.
Belum selesai sampai di situ, sebagai kelas pekerja, we
are being alienated to our own happiness juga, lho. Marx pernah bilang kalau
kapitalisme membuat kita teralienasi bahkan pada barang produksi kita sendiri. Teralienasi
dari orang lain dan hal yang bahkan kita kerjakan sehari-harinya, karena itu
adalah produk kapital, bukan produk pribadi. Efek dari alienasi ini kita jadi
punya halusinasi bahwa ada produk-produk yang KUDU-MESTI-WAJIB kita miliki.
Tentunya dengan anggapan bahwa dengan kita punya, maka kita merasa cukup; yang
artinya bisa mencapai kebahagiaan. Kalau begini, bisa dibilang rasa cukup dan
bahagia seakan memang dibuat oleh kapitalis. Kapitalis membuat konsep bahagia,
dan konsep mencukupkan.
Hahahaha ini kok ngomongin kebahagiaan malah jadi
bawa-bawa Marx ya. Intinya sih, saya cuma mau liatin aja kalau ternyata bahagia
dan cukup itu ga sesederhana itu, lho. Bersyukurlah buat kamu-kamu yang rasa
cukupnya sebatas bisa makan ketoprak pakai telor dadar panas + minum Coca Cola
pake es, dan bisa mencapai kebahagiaan XD.
Comments
Post a Comment