Kisah Kasih jadi Karyawan

Orangtua saya dari dulu adalah wirausahawan, pedagang, pengusaha yang berusaha di atas kaki sendiri. Ayah saya dari dulu bekerja untuk dirinya sendiri, dari mulai dagang kecil-kecilan sampai bisa punya beberapa karyawan. Ibu saya, dari dia lulus sekolah belum pernah sekalipun merasakan bekerja/berusaha. Tapi, 10 tahun belakangan beliau bisa dikategorikan berusaha sih, membantu ayah saya membuka usaha lebih tepatnya.

Karena hal itu lah saya jadi gak pernah punya bayangan apa itu karyawan, apa itu bekerja untuk orang lain. Saya tidak pernah mengerti konsep bekerja untuk memajukan usaha orang lain.  Selama ini yang saya lihat dari pekerjaan orangtua saya, mereka berusaha untuk mengembangkan usaha mereka sendiri, memikul kerugian sendiri dan menikmati keuntungan sendiri. Ketika masih ada karyawan tentunya keuntungan dibagi juga ke karyawan. Saya benar-benar awam dengan yang dimaksud dengan karyawan.

Selepas kuliah, saya beberapa kali ikut proyek penelitian. Di proyek ini, lagi-lagi saya tidak dikenalkan konsep bos-karyawan itu. Beberapa perusahaan/lembaga yang mengajak saya untuk ikut serta biasanya menempatkan diri sebagai stake holder, sehingga posisi kita seperti setara. Saya sering memberikan masukan-masukan, memberikan ide untuk kegiatan pengambilan data.

Pada pertengahan tahun ini, saya ditawarkan pekerjaan sebagai sekretaris di sebuah konsultan hukum. Dari bulan pertama saya sudah merasakan adanya perbedaan kultur perusahaan. Di sini, semua orang (termasuk para associate) tunduk sama pemilik perusahaan. Saya yang biasanya suka slengean aja, manggil semua yang agak tuaan dengan nama dan yang tua dengan mas/mbak merasa ada cultural lag. Ya gimana enggak, selain karena semua orang yang tiba-tiba jadi sangat santun di depan bos, office uniform-nya juga ditentukan; untuk perempuan sendiri tiap hari harus pake blus dan rok. Sementara, di pekerjaan saya sebelumnya, seperti yang sudah saya bilang, saya biasanya sapa atasan/senior hanya dengan nama atau sapaan yang terdengar lebih egaliter, mas/mbak. Untuk cara berpakaian juga saya terbiasa dengan pakaian yang santai tapi tetap sopan. Untuk turun ke lapangan, saya dulu biasa pakai kemeja bahan katun dan jeans warna gelap.

Saya kurang paham sih, apa memang saya yang gak bisa nge-blend sama lingkungan pekerjaan yang kaku seperti itu, atau memang saya gak punya naluri buruh/pegawai dari dulu. Saya gak pernah membayangkan kalau jadi pegawai itu sama aja kayak ngasih separuh nyawa saya buat orang lain, buat bos saya. Setiap gerak-gerik, bahkan sampai obrolan aja gak bisa sembarangan karena semua itu ‘dinilai’ dan jadi pertimbangan buat bos-bos ini, apakah mereka akan meneruskan kontrak si pegawai atau engga. Sebagai yang besar di keluarga pengusahaan, dan first job-nya bekerja di pekerjaan yang kurang pengawasan, hal ini jadi big deal banget buat saya. Bukannya saya ini anaknya sembarangan banget atau gak ber-attitude, tapi menurut saya sebagai manusia kita boleh dan sah-sah saja mengekspresikan diri kita kan? Selama pekerjaan kita sudah terselesaikan, selama kewajiban profesionalisme sudah kita penuhi kita berhak untuk mengekspresikan diri kita, tentunya dengan batasan-batasa profesionalisme itu tadi.


Gitu deh curhatan saya hari ini. Saya sih berharap saya bisa menemukan perusahaan yang lebih luwes sama pegawainya. Selama pekerjaan/tuntutan professional sudah diselesaikan, pegawai boleh berekspresi. Hidup pegawai!

Comments

Post a Comment