Tentang Perempuan



Menjadi perempuan di lingkungan yang patriarkal memang cukup sulit. Contohnya saja di keluarga saya, adik laki-laki saya tidak pernah ‘tuh menyentuh cucian piring kotor, segala bentuk pekerjaan domestik selalu dilimpahkan ke anak-anak perempuan; saya dan adik saya yang perempuan. Adik saya yang laki-laki dengan mudahnya diberikan barang-barang, kami yang perempuan, sulit sekali dikabulkan keinginannya. Kalau bukan karena nilai kami selalu baik, mungkin kami tidak pernah sama sekali memiliki sepeda sendiri. Akan tetapi lain cerita kalau soal pendidikan, orangtua saya merasa semua anaknya, baik laki-laki atau perempuan, berhak untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama, setinggi-tingginya.

Perempuan zaman sekarang memang seharusnya tidak lagi dipandang dengan sebelah mata. Perempuan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki. Seharusnya memang tidak perlu ada lagi batasan-batasan tak kasat mata mengenai apa yang harus dan tidak harus dilakukan oleh perempuan. Perempuan bebas mengekspresikan apa yang mereka mau, dengan catatan tidak merugikan orang lain tentunya. 

Nah, dua hari ini saya menonton tiga film yang memiliki keserupaan; sama-sama menceritakan mengenai perempuan kuat. Perempuan yang, meskipun mereka berada di situasi terdesak, mereka tetap bisa punya kendali atas diri mereka dan tahu apa yang mereka mau tanpa harus bergantung dengan orang lain.

Film pertama yang saya nonton adalah, Lust, Caution (2007)



Film ini menceritakan mengenai sekelompok mahasiswa yang sedang berusaha untuk membunuh seorang pengkhianat negara dan mata-mata bagi negara lawan, bernama Mr Yee. Dalam usaha membunuh Mr Yee, salah satu dari mereka, Wo Chiang Ci, menggoda Mr Yee. Saking jagonya seducing skill si Wo Chiang Ci, Mr Yee beneran terpincut hatinya akan kemolekan paras dan kebaikan si Wo Chiang Ci. Inilah yang emang diharapkan si Wo Chiang Ci dan teman-temannya, sehingga mereka bisa masuk ke kehidupan Mr. Yee dan tahu kebiasaan-kebiasaan dia sehari-hari. Padahal, si Mr Yee ini terkenal die hard  karena sifatnya dia yang sangat hati-hati dan gak bisa percaya sama orang lain gitu aja. Nah, tapi entah kenapa si Wo Chiang Ci juga mulai suka sama Mr Yee, bahkan di bagian terakhir film, ketika kelompok mahasiswa itu akhirnya menemukan right moment untuk membunuh Mr Yee, si Wo Chiang Ci justru ngebongkar rencana tersebut. Ya emang sih, pas terakhir si Wo Chiang Ci terlihat sangat bodoh buat teman-temannya yang udah capek-capek bantuin dia selama ini. Tapi, coba deh, dari awal aja kita tahu dia tuh kuat banget, dia bisa mendekati mata-mata tengik macem Mr. Yee, tapi pada akhirnya dia tahu apa yang dia mau. Ya... Meskipun abis itu dia dieksekusi mati sama komplotan Mr. Yee. *sad*.


Film yang kedua itu judulnya Initiation Love (2015)



Kalian udah nonton film ini? Trus kalo udah nonton, rasanya mau banting-banting kursi gak?

Serius deh, saya aja yang perempuan rasanya pengen lempar nih layar laptop ngeliat kelakuan cewe macem gitu. Apalagi kalian ya, bro, para lelaki di luar sana yang banyak dicampakkan sama perempuan macem di film ini.

But, hey.. let us see the other way around. Kalau kalian sudah nonton, pasti kalian tahu kan film ini tuh menceritakan tentang seorang perempuan yang jahat banget karena bisa-bisanya belom putus sama cowonya, udah mulai flirting sama laki-laki lain. Dan yang lebih nyebelinnya, dia punya panggilan nama yang sama buat pacar dan gebetan barunya. Cewe brengsek. Tapi, kalo kalian lihat juga, sebenarnya yang mendasari si cewek melakukan itu kan karena adanya perubahan sikap cowonya ke dia. Mungkin dia juga udah sadar itu dan antisipasi hati biar gak sakit terlalu dalam makanya dia mulai membuka hati untuk orang lain. Toh, yang emang awalnya mulai ada main sama orang lain kan pacarnya, bukan si cewe ini. Perempuan yang macem gini nih, yang patut dicontoh, perempuan yang tegar dan kuat! Ditinggal pacar ya tinggal cari cowo baru, susah amat!


Nah yang ketiga ini adalah film dari negeri sendiri, judulnya Nay (2015).


Film yang disutradarai oleh Djenar Maesa Ayu ini bener-bener super mini kali ya budget pembuatan filmnya, persis kaya merk mobil yang dikendarai sama Nay sepanjang film. Film ini dari awal sampai akhir bener-bener cuma ambil gambar Nay bawa mobil malem-malem abis pulang dari rumah sakit. Enggak, dia gak abis sakit, tapi dia habis ke dokter kandungan and turned out that she have carried a baby in her tummy at least for eleven weeks. Padahal kondisinya itu dia adalah seorang aktris yang mau ada kontrak film luar negeri gitu dan ditambah ternyata pacarnya gak mau tanggung jawab. Bahkan emak pacarnya mempertanyakan apa bener itu adalah anak dari anaknya dia? Wah si Nay makin murka, dia akhirnya memutuskan untuk tetap mempertahankan si jabang bayi. Sebenarnya masalah Nay bukan cuma di situ aja, selama ini emosi dia selalu gak stabil karena perlakukan Mommy-nya yang sangat abusive, baik secara fisik maupun mental. Nay mulai berpikir ulang, dia takut nanti dia akan bersikap yang sama kaya Mommy-nya ke anaknya, dan akhirnya anaknya pun akan sama ‘sampahnya’  kaya dia. Jadi akhirnya Nay mencoba menelepon teman sekaligus manajernya, Adjeng, untuk mencarikan tempat aborsi. Sepanjang jalan Nay terus berdialog dengan dirinya sendiri, namun seakan-akan berbicara dengan Mommy-nya yang sudah mencampakkan dia selama ini, hingga akhirnya Nay hilang konsentrasi dan mengalami kecelakaan. Di akhir film, diperlihatkan Nay berjalan keluar dari rumah sakit, dengan perut yang besar, mengandung anaknya. Nah, kalian liat kan? Meskipun perempuan itu kuat, tapi perempuan juga gak sesempurna itu. Tetep aja ada waktunya perempuan jadi rapuh, indecisive, dan sangat labil. Akan tetapi, itu gak lantas menjadikan perempuan jadi manusia yang lemah dong. Justru dari keterpurukan itu kita bisa belajar untuk bangkit. Sama kaya Nay, dia banyak belajar mengenai  perlakuan buruk ibu dan mantan pacarnya ke dia.  Di awal dia masih ragu untuk membesarkan anak itu, tapi pada akhirnya, dia mau mempertahankan bayinya dan tentunya belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang dilakukan oleh ibunya waktu membesarkan dia.

Dalam menyambut bulan April ini, kan Hari Kartini tuh 21 April ya, bulan dimana emansipasi perempuan digaung-gaungkan. Postingan ini saya dedikasikan untuk perempuan dimanapun di seluruh dunia. Jangan pernah takut untuk bergerak, untuk menentukan pilihan, untuk menangis, untuk tertawa, untuk mengekspresikan perasaan, untuk bertindak tegas, untuk berbuat baik meskipun itu sulit. Perempuan tidak boleh dibatasi, perempuan harus berekspresi.


Comments