Di Indomaret Hybrid PGC tulisan ini dibuat. Rumah sakit tempat
Bapak saya dirawat melarang pengunjung dan pendamping pasien menggunakan
listrik untuk keperluan pribadi. Sambil ditemani hujan besar yang bikin badan
makin ngilu. So this is the story...
Hari Senin tanggal 18 Juli, entah kenapa saya rajin banget, bikin
reminder untuk translator jam 9 pas, nyelesain invoice untuk klien jam 10 pagi,
akhirnya sekitar jam 10.30 saya sudah leyeh-leyeh sambil main HP dan cek
Twitter. Kala itu di Twitter ramai ngebahas soal #HariPertamaSekolah, saya
ikut-ikutan euforianya mem-posting foto lucu-lucuan. Gak lama kemudian, ada
telepon dari tetangga rumah saya di Bekasi, namanya Pak Bani. Beliau bilang
Bapak saya pingsan dan saya diminta untuk datang ke sana secepatnya. Entah
kenapa di situ saya merasa mungkin Bapak saya hanya pingsan kecapekan saja, gak
lebih.
Saya agak ragu untuk berangkat sendiri, sementara Ibu saya sudah
setengah jalan masak untuk keperluan berdagang. Akhirnya setelah diskusi
sebentar, Ibu saya memutuskan untuk tidak meneruskan masak dan menemani saya
menengok Bapak di Bekasi. Bapak memang selama bulan puasa kemarin tinggal di
Bekasi karena ada urusan di sana, sementara kami tinggal di Bogor bersama Ibu.
Setelah Lebaran pun Bapak kembali lagi ke Bekasi untuk cek pekerjaannya.
Akhirnya sekitar jam 11.30 kami berangkat dari Bogor ke Bekasi.
Di Bekasi kami sampai sekitar pukul 1 siang. Bapak saya sudah ada
di rumah setelah dibawa ke klinik oleh tetangga saya. Ia terlihat seperti
sedang tidur dengan mata setengah terbuka dan mendengkur. Saya agak
kebingungan melihat hal ini, tetangga sudah ramai berkumpul dan banyak yang
berasumsi dan berspekulasi. Ada yang bilang Bapak saya kerasukan setan lah, ada
yang bilang kena angin duduk lah. Sampai akhirnya Bapak saya bangun dan
terlihat tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki kanannya. Saya baru sadar
kalau Bapak saya terkena stroke; di situ saya mulai menangis.
Ibu dan saya benar-benar kebingungan, kita gak pernah ada di dalam
situasi seperti ini. Sementara itu tetangga-tetangga saya masih kekeuh kalau
Bapak saya kerasukan setan. Saya dan Ibu akhirnya minta untuk bawa Bapak saya
ke Bogor dan dibawa ke rumah sakit di daerah Bogor. Setelah siap-siap
beres-beres baju untuk Bapak saya, sekitar jam 4 sore kita berangkat dari
Bekasi menuju Bogor. Perjalanan menuju ke sana cukup lama karena di tol
Jagorawi lumayan padat sehingga kita baru sampai ke Bogor, tepatnya RS Citama
sekitar pukul 7 malam. Bapak langsung diturunkan ke IGD dan diperiksa oleh
dokter jaga di sana. Melihat kondisi Bapak dan bagaimana saya dan Ibu terlalu
terlambat dalam penanganan dan pertolongan pertama, dokter agak memarahi kami.
Ayah saya dicek tensinya, dicek mana anggota badan yang tidak bisa digerakkan
juga diberikan suntikan untuk di otaknya. Dokter di RS tersebut meminta kami
untuk melakukan CT-Scan terhadap Bapak saya mengecek apakah stroke yang dialami
oleh Bapak saya ini stroke dengan perdarahan atau tidak. Karena di RS tersebut
tidak tersedia alat CT-Scan kami diberikan surat rujukan ke RSUD Cibinong.
Akhirnya kami langsung membawa Bapak menuju ke RSUD Cibinong.
Seperti yang kalian tahu, RS pemerintah terkadang dan bahkan lebih
sering menelantarkan pasien di UGD; seperti apa yang terjadi pada Bapak saya
malam. itu Setelah saya serahkan surat rujukan dari RS Citama, mereka bilang RS
sudah penuh dan tidak dapat menerima pasien tambahan. Kemudian merekan mencap
surat rujukan tersebut TANPA MEMBERIKAN PENANGANAN APAPUN ATAU MEMBERIKAN
REKOMENDASI RUMAH SAKIT ATAU SEKEDAR MEMBERIKAN INFO PADA RUMAH SAKIT TUJUAN
KAMI NANTINYA. Sungguh-sungguh tidak profesional. Saat itu saya Cuma bisa
menangis dan menyesali prosedur rumah sakit negara ini yang benar-benar
amburadul. Akhirnya saya tetap memaksa untuk CT-Scan di RS ini dengan pemikiran
bahwa jika sudah ada hasilnya dan diketahui sejauh mana serangan stroke yang
terjadi pada Bapak saya, kita bisa tahu langkah dan tindakan seperti apa yang
harus saya dan keluarga saya ambil. Untuk melakukan proses dan mendapatkan
hasil CT-Scan diperlukan sekitar 3 jam dsendiri. Dokter jaga memberikan
keterangan bahwa Bapak saya mengalami stroke dengan perdarahan, dengan begitu
diperlukan penanganan intensif dengan dokter spesialis bedah syaraf, DAN DI RS
SELEVEL DAERAH ITU GAK PUNYA DOKTER SPESIALI BEDAH SYARAF *nangis kejer. Dokter
jaga itu juga bilang kalau di RS Citama udah pasti gak akan bisa menangani juga
karena di sana fasilitasnya lebih di bawah RSUD Cibinong ini. Mereka akhirnya
kasih rekomendasi tempat di Bina Husada atau Sentra Medika Cibinong. Kami langsung
bawa Bapak ke sana. Waktu itu sudah jam 12 malam, dan dua RS itu lagi-lagi
menolak untuk merawat Bapak saya. Mereka beralasan bahwa Bapak saya harus
ditempatkan di ruang ICU, dan pada saat itu ruangan sudah penuh. Dengkul saya
lemas, saya capek, saya baru sadar saya belum makan dari pagi tadi.
Keluarga dari Ibu saya, yang sedari tadi bantu saya masalah
mobilitas Bapak menyarankan untuk membawa Ayah saya pulang terlebih dahulu.
Saya sendiri sebenarnya gak mau bawa Bapak saya ke rumah, saya mau Bapak saya
dibawa ke RS untuk ditangani. Tapi terkadang keluarga mungkin masih melihat
saya sebagai anak kecil yang gak paham apa-apa, akhirnya omongan saya pun
diacuhkan gitu aja. Akhirnya Bapak saya malam itu dibawa ke rumah. Keluarga
saya berunding mengenai tindakan selanjutnya yang harus dilakukan untuk Bapak
saya. Akhirnya kita sepakat untuk membawa Bapak ke RS di Jakarta. Memulai
pencarian RS dari RSUD Budhi Asih. Pagi-pagi sekali, saya sudah berangkat ke
Jakarta dengan adik saya sebagai team advance.
Sebelum ke RS, saya mengurus BPJS Bapak saya terlebih dahulu. Buat teman-teman, penting banget
untuk urus BPJS karena sangat membantu khususnya dalam hal pembiayaan.
Pengobatan dan perawatan penyakit stroke itu biayanya tidak sedikit, sehingga
bantuan BPJS ini sangat meringankan beban saya dan keluarga. Kebetulan BPJS
Bapak saya bermasalah, kartu tidak tercetak oleh sistem padahal statusnya sudah
aktif. Setelah urusan BPJS selesai saya langsung menuju RSUD Budhi Asih untuk
mengecek tempat dan mendaftarkan Bapak saya ke IGD. Saya juga menelpon Ibu saya
untuk segera membawa Bapak ke RSUD ini.
Sekitar pukul 10 pagi, Bapak sampai ke RSUD Budhi Asih. Bapak saya
langsung dibawa ke IGD dan diberikan penanganan yang sangat baik, berbeda
dengan apa yang terjadi di RSUD Cibinong. Bapak saya langsung diberikan
oksigen, dipasang selang buang air kecil, selang makan dan diberi monitor untuk
mengecek tensi darahnya. Selain itu, Bapak saya juga mulai diinfus dan
diinjeksikan obat untuk menekan perdarahan yang terjadi di otaknya. Sungguh
melegakan bahwa Bapak sudah ditangani dengan cukup intensif di IGD. Tidak lama
kemudian, dokter jaga memberikan saya surat permintaan rawat inap untuk
mengurus ruangan untuk Bapak saya. Setelah dicek, ternyata ruangan masih penuh.
Akhirnya Bapak saya tetap ditempatkan di IGD tapi tidak kekurangan penanganan.
Obat dan segala macam penanganan tetap diberikan. Sampai akhirnya sekitar
Maghrib, dokter jaga yang berbeda menyarankan saya untuk mencari ruang rawat
inap reguler saja yang sepertinya sudah tersedia untuk Bapak saya. Saya
kemudian cek ke bagian administrasi rawat inap dan ternyata memang sudah ada
ruangan yang kosong untuk Bapak saya. Perlu diketahui bahwa untuk pasien
penderita atau yang didiagnosa memiliki masalah dengan syarafnya memiliki lantai
perawatan khusus di RSUD Budhi Asih ini. Sehingga, pasien tidak tercampur
dengan penderita penyakit lain.
Untuk teman-teman, sebagai pelajaran bahwa jika ada keluarga yang
terkena stroke 3-4 jam pertama adalah waktu yang sangat menentukan, pertolongan
pertama penting dilakukan; langsung bawa ke rumah sakit, whatever happened
please bawa langsung ke rumah sakit. Saya pada hal ini sudah sangat lalai, saya
tidak pernah punya pengalaman menangani orang stroke, bahkan saya tidak punya
pemahaman mengenai gejala atau tanda orang terkena stroke. Saya
sempat-sempatnya bawa Bapak saya ke Bogor dulu, padahal di Bekasi RS
bertebaran. Banyak sumber yang mengatakan kalau seseorang terkena stroke, tusuk
5 lubang di masing-masing jari untuk melancarkan peredaran darah; hal ini pun
tidak saya lakukan karena sudah terlalu panik dengan keadaan Bapak saya. Semua
teori yang kami tahu tiba-tiba sulit dilakukan, semua teori hanya tinggal
teori. Urus BPJS Kesehatan sekarang juga. Buat BPJS memang ribet, tapi ini
sangat-sangat membantu kami. Di penanganan pertama di RS Citama dan RSUD
Cibinong kami belum menggunakan fasilitas ini, untuk pendaftaran dan penanganan
di RS Citama kami menghabiskan sekitar 300ribu rupiah, dan untuk CT-scan dan
juga pendaftaran di RSUD Cibinong kami menghabiskan 1juta rupiah. Sementara di
RSUD Budhi Asih, setelah menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan semuanya gratis
tis tis.
Sekarang Bapak saya sudah diberikan penanganan yang terbaik dari
rumah sakit. Saya dan keluarga hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Bapak saya,
saya percaya harapan dan keajaiban itu ada.
Comments
Post a Comment