On my previous blog, saya sudah menceritakan mengenai serangan
stroke yang terjadi pada Bapak saya. Setelah pencarian rumah sakit untuk
Bapak saya yang super deramah itu, akhirnya Bapak dirawat di RSUD Budhi Asih.
Selama kurang lebih delapan hari dirawat, tensi darah dan hasil CT-Scan
memperlihatkan ada kemajuan pada Bapak. Kemarin, tepat di hari ulang tahunnya,
akhirnya Bapak saya diperbolehkan pulang oleh dokter. Dengan begitu, peran baru
saya dimulai, sebagai seorang caregiver.
Bagi yang belum tahu, seseorang
yang terkena stroke apalagi dengan perdarahan, biasanya akan mengalami
kelumpuhan semua atau sebagian anggota tubuhnya, sulit berkomunikasi (biasa
disebut pelo) hingga mengalami kehilangan kesadaran. Bapak saya cukup beruntung
karena meskipun sulit berkomunikasi dan anggota tubuh bagian kanan tidak dapat
digerakkan, akan tetapi dari pertama ia mengalami serangan hingga saat ini
kesadarannya ada 100%. Oleh sebab keterbatasan komunikasi dan kelumpuhan
tersebut, Bapak saya tidak dapat melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Setiap
ia makan, minum, mandi, duduk, tidur, bahkan pipis dan BAB harus didampingi
oleh orang lain; dalam hal ini saya dan keluarga saya.
Mengurusi orang dewasa sakit
berbeda dengan mengurusi bayi baru lahir atau Balita. Bayi kalau kita atur-atur
paling jauh bisanya Cuma nangis. Sementara orang dewasa, kalau diatur-atur
malah suka marah dan ngambek. Kalau sudah marah dan ngambek nanti memengaruhi
tensinya; tensi naik eh drop lagi. Belum lagi mengingat poin “menghormati
orangtua”, kita sebagai anak merangkap caregiver jadi bimbang, gak diturutin
kemauannya dibilang gak nurut, diturutin nanti malah kenapa-kenapa. Belum lagi
keterbatasan komunikasi, kadang saya dan keluarga gak paham apa yang diomongin
sama Bapak, akhirnya pesannya gak sampai, mukanya langsung kelihatan not
satisfied gitu. Di-mention satu-satu maunya apa tetep salah dan akhirnya pasrah
aja. Hal ini terjadi juga tengah malam tadi, sekitar jam 2.30 pagi Bapak saya
bangunin Ibu saya, sambil ngomong gak jelas gitu Ibu saya gak paham. Ibu saya
cek ternyata Bapak saya nunjuk-nunjuk ke perut bawahnya, celana popoknya sudah
setengah terbuka, sepertinya sengaja dibuka sama Bapak. Ibu saya bingung dan
akhirnya bangunin saya. Kemudian, saya cek Bapak saya dan saya lihat popoknya
kering. Kalau kering begitu, berarti kan dari pulang rumah sakit siang tadi
sampai tengah malam begini Bapak belum pipis juga. Kebayang dong pasti itu udah
penuh banget kantung kemihnya dan mungkin itu kenapa dia meringis sambil nunjuk-nunjuk
perut bagian bawah. Sebelumnya, di rumah sakit Bapak saya pipis lewat kateter.
Saya coba googling pengalaman orang pasca lepas kateter, banyak yang bilang
kesulitan kencing setelah pemasangan kateter memang wajar terjadi. Tapi melihat
Bapak saya sudah meringis kesakitan, saya gak tega akhirnya saya langsung ke
klinik terdekat untuk konsultasi hal ini dan minta ke dokter klinik untuk
pasangkan lagi kateter ke Bapak saya. Setelah dipasang lagi, Bapak saya tenang dan
kembali tidur. Saya? Ya tetep bangun karena mesti kerja. Ini baru sehari
semalem, lho, kebayang ndak ini bisa aja terjadi selama sisa hidup Bapak saya.
Bukannya gak ikhlas ngurusin Bapak saya, akan tetapi saya ngebayangin aja kejenuhan
yang akan terjadi nantinya dengan keadaan seperti ini. Maka dari itu, banyat
teman sejawat, keluarga besar yang dulunya pernah punya pengalaman mengurus
anggota keluarga yang sakit memberikan pesan seperti “sabar ya, Des”, “yang kuat
ya, Des” karena beban mengurus orang dewasa sakit itu sungguh-sungguh
berat.
Untuk saat ini saya masih kuat
dan masih diberi kesabaran, ditambah juga support gak henti-henti dari teman
dan keluarga. Sekarang bukan waktunya buat mengeluh, sekarang waktunya saya
untuk ngumpulin tenaga sebanyak-banyaknya buat ngurusin Bapak saya sampai pulih
kembali.
Comments
Post a Comment