Peduli Kanker Serviks, Peduli Kesehatan Reproduksi

Semenjak ayah saya terserang stroke, keluarga kami jadi semakin concern jika ada gejala-gejala sakit yang ‘aneh’ nan tidak biasa yang muncul di anggota keluarga kami. Kami gak mau kecolongan lagi dari penyakit-penyakit yang sebenarnya kalau kita tahu lebih dini, mungkin saja bisa dicegah. Beberapa bulan lalu, ibu saya sempat mengalami keadaan ‘aneh’ di tubuhnya yaitu menstruasi berkepanjangan.  

Setiap bulannya ia mengalami menstruasi lebih dari 2 minggu. Seminggu berhenti, kemudian di minggu berikutnya ia mengalami menstruasi lagi. Darah menstruasinya pun cukup banyak. Siklus menstruasi seperti ini terjadi kurang lebih selama 3 bulan. Menurut artikel-artikel online yang dibacanya, menstruasi berkepanjangan adalah pertanda masuknya masa menopause pada seorang perempuan, sehingga kami menganggap siklus ini adalah wajar. Namun, perlu diketahui, ibu saya saat ini menginjak umur 47 tahun, sementara rata-rata usia menopause di Indonesia sekitar 50 tahunan. Sampai di sini kami menyimpulkan mungkin ibu saya mengalami menopause dini.

2-3 bulan berlalu keadaan semakin parah. Dalam sebulan HAMPIR TIAP HARI ibu saya menstruasi, beberapa hari berhenti kemudian keluar lagi darah yang cukup banyak. Kali ini kami menjadi lebih khawatir karena takut jika ibu saya jadi kekurangan darah. Darah yang dikeluarkan pun terlihat segar, tidak seperti darah kotor yang keluar saat haid. Saya kemudian mencoba menelusuri di internet soal perdarahan ini. Kemudian ada beberapa artikel yang menyebutkan bahwa perdarahan bisa jadi adalah salah satu gejala adanya kanker serviks. Kami sekeluarga panik, tapi berusaha tetap tenang dan merencanakan untuk konsultasi ke dokter.

Pada pertemuan dengan dokter, ibu saya masih mengalami perdarahan, sehingga tidak dapat dilakukan pemeriksaan yang intensif. Dokter memberikan resep obat untuk memberhentikan perdarahan (obat yang biasa dikonsumsi oleh mereka yang ingin berangkat haji). Setelah mengkonsumsi obat tersebut selama satu minggu, ibu saya tidak mengalami perdarahan lagi, kami pun kembali menemui dokter. Dokter memeriksa ibu saya dan karena belum terlalu yakin dengan pemeriksaan awal tersebut, akhirnya ibu saya diminta untuk melakukan Pap Smear.
Penjadwalan cek Pap Smear dilakukan di minggu berikutnya. Perlu diketahui ibu saya itu agak jengah kalau harus diperiksa di kemaluannya. Selama proses ini, dia terlihat sangat tersiksa dan stres sekali. Setiap kali harus bertemu dan diperiksa dokter, dia terlihat malas-malasan. Apalagi saat itu dokter obgyn-nya adalah seorang laki-laki dan kurang ramah. Menurut saya, sebenarnya memang penting memilih dokter yang ramah dan komunikatif serta bisa membuat pasien-pasiennya nyaman. Beberapa teman ada juga yang merekomendasikan kepada saya untuk membawa ke Mayapada Hospital, yang terkenal memiliki fasilitas dan layanan yang sangat baik. Apalagi sekarang-sekarang ini Mayapada Hospital, baik Mayapada Hospital Lebak Bulus ataupun Mayapada Hospital Tanggerang, memiliki concern pada penyakit kanker serviks dan sudah memiliki fasilitas vaksin HPV juga.

Tiba saat ibu saya mulai proses Pap SMEAR, ternyata masih ada perdarahan sedikit, sehingga proses ini kembali ditunda. Di pertemuan selanjutnya, setelah perdarahan sudah tidak terjadi (di sini ibu saya kembali diberikan obat yang untuk pergi haji itu) barulah proses Pap SMEAR dilakukan. Proses PAP Smear ini sendiri adalah sebuah proses untuk mendeteksi dan melihat kondisi serviks (leher rahim) kita, apakah ada hal yang aneh atau dalam keadaan normal. Setelah melakukan pengecekan lewat PAP Smear, hasilnya baru bisa kami ketahui 2-3 hari kemudian. Selama waktu menunggu hasil keluar, kami sekeluarga dalam keadaan cemas takut jika hal terburuk terjadi kepada ibu saya. Sampai di tahap ini saya kemudian jadi lebih sadar dan saya peduli kanker serviks. Bahwa, kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi dan kami harus siap untuk menghadapinya.

Akhirnya tiba saat di mana kami mendapatkan hasil PAP Smear ibu saya. Alhamdulillah, ternyata ibu saya bebas dari kanker PAP Smear. Ia hanya mengalami infeksi dan menstruasinya bisa kembali normal dengan diberikan antibiotik dan beberapa obat penunjang lainnya.


Setelah kejadian ini, saya jadi lebih menghargai ungkapan lebih baik mencegah dari pada mengobati. Pengecekan kondisi tubuh secara berkala, bisa mencegah kita dari penyakit-penyakit yang mengerikan itu. Setidaknya jika kita tahu kondisi tubuh kita seperti apa maka kita bisa lebih aware dan menjalani hidup yang lebih sehat. Untuk saya sendiri, saya kepingin banget bisa vaksin HPV juga, supaya mencegah kanker serviks masuk ke tubuh saya. Cuma karena vaksin ini lumayan mahal dan belum ditanggung sama BPJS jadi mungkin mesti nabung dulu ya atau bisa juga sih menguji keberuntungan vaksin HPV gratis dari Mayapada Healthcare Group! Buat yang pingin ikutan juga bisa daftar di sini ya bit.ly/2j0oHwD Saya Peduli Kanker Serviks!

Comments