Pengalaman Keguguran Kehamilan Kosong (Blighted Ovum) - Kontraksi Hebat Sebelum Kuret

 

Di tahun lalu, sekitar Bulan Mei, hari-hari terakhir puasa Ramadan, saya mendapatkan kabar paling menggembirakan, sebuah rezeki yang datang di bulan Ramadan, saya hamil.


Keesokan harinya, saya dan suami berangkat ke RS untuk USG. Karena umur kehamilan yang masih sangat dini, USG dilakukan melalui transvaginal. Dokter mengatakan bahwa janin belum terlihat jelas, tapi gestasional sac atau kantung janin sudah ada. Kami diminta untuk kembali dua minggu lagi. 

Dua minggu setelahnya, saya gak berangkat ke RS karena saat itu kondisi ga memungkinkan, dan saya baru tahu belakangan kalau RS yang saya datangi adalah rujukan pasien COVID-19 dengan lobi RS yang sangat kecil, sehingga saya merasa RS tersebut kurang aman buat saya. Saya pergi ke klinik bidan terdekat dari rumah, di sana hanya dicek tensi dan ukuran perut. Menurut bidan, kehamilan saya masih terlalu kecil untuk dicek detak janinnya menggunakan doppler. 

Tidak berselang terlalu lama, saat saya sedang buang air kecil terlihat bercak darah di undies saya. Saya langsung tanya ke beberapa teman yang pernah hamil, mereka bilang gak pernah ada bercak darah selama hamil. Saya sendiri ga ngerasain sakit atau apa, makanya agak bingung pada saat itu. Lalu, saya cerita ke ibu mertua saya, di situ kebetulan ada seorang tetangga yang bilang untuk cek USG bisa ke klinik khusus untuk obgyn, lokasinya juga gak terlalu jauh Cuma memang harus dengan perjanjian minimal sehari sebelum. Akhirnya saya coba reservasi untuk keesokan harinya. Keesokan harinya, saya dan suami berangkat ke klinik tersebut, dengan keadaan saya yang semakin banyak mengeluarkan darah dari vagina. Persis seperti perempuan sedang haid. Saya di-USG dari abdomen oleh obgyn di klinik tersebut, dan dikatakan oleh dokter bahwa kehamilan saya sudah di umur 8 minggu tetapi tidak ada janin, dan ukuran kantung janin biasanya untuk kehamilan di 4-5minggu. Obgyn tersebut mengatakan bisa jadi saya mengalami Blighted Ovum atau yang biasa dikenal juga dengan kehamilan kosong. Dokter tersebut memberikan saya beberapa resep obat termasuk utrogestan yang dikenal sebagai obat penguat Rahim. Sambil menunggu 2 minggu, saya di rumah diminta untuk bedrest.

Tiap hari perdarahan saya makin banyak, dan kadang ada rasa keram di perut. Hingga di suatu siang, keluar gumpalan darah cukup besar, diikutin dengan perdarahan yang hebat. Saya hampir ga bisa bangun dari tempat tidur. Untungnya hari itu suami saya bekerja di dekat rumah, jadi Ketika saya telepon dia bisa datang cepat-cepat. Saya langsung berangkat ke RS saat itu juga. Di perjalanan saya mengalami sakit perut yang sangat hebat, belakangan saya baru tahu kalau sakit perut itu adalah kontraksi. Perdarahan sudah ga terbendung lagi, saya bawa handuk untuk menampung dan sudah penuh dengan darah. Di IGD saya diterima dan dicek oleh bidan, suami saya harus urus beberapa administrasi, sehingga saya sendirian di IGD sesekali dicek oleh bidan dan perawat. Saya diinformasikan untuk jadwal kuretase saya di jam 7 malam. Selama menunggu saya gak dibolehkan makan dan minum. Kondisi kontraksi hebat dan perdarahan membuat saya ga bisa mikir, saat itu saya Cuma berharap semuanya cepat selesai. Gumpalan-gumpalan darah banyak keluar dari vagina saya, toilet IGD sudah seperti ruangan pejagalan, isinya darah saya semua. Untungnya IGD RS sedang sepi.

Oh iya, saya kuret menggunakan fasilitas BPJS ya, jadi memang beberapa hari sebelum ke RS saya sempat mengunjungi Faskes I untuk dibuatkan rujukan ke RS tempat saya kuret. Saya juga sempat konsul dengan dokter di RS dan dokter tersebut juga mengatakan hal yang sama seperti dokter di klinik, bahwa saya mengalami hamil BO.

Jam 7 malam kurang, saya dibawa ke ruang tindakan. Kondisi saya udah ga kontraksi lagi, kayaknya semua jaringan di Rahim saya udah keluar. Tindakan kuretase kemungkinan Cuma untuk membersihkan Rahim saya aja. Suami saya ga diperbolehkan untuk nemenin saya, jadi saya di dalam ruang Tindakan sendiri. Gak lama, obgyn dan dokter anastesi datang. Saya dibius total ya saat itu, jadi segala Tindakan selama kuretase saya ga tahu, baru sekitar jam 8.30 malam saya mulai sadarkan diri. Sebenarnya, setelah Tindakan kuret pasien bisa langsung pulang, Cuma karena sudah terlalu malam, kami diminta untuk menginap sehari di RS. Saya sendiri ga bisa tidur semalaman, karena masih coba recall apa yang terjadi di hari itu, semua kejadiannya terjadi begitu cepat sampai saya gak dikasih waktu untuk sedih atau marah. 

Keesokan harinya, saya sudah lebih sehat, berjalan sudah bisa Cuma memang perut saya ada rasa perih seperti disilet-silet, saya dikasih resep pain killer dan itu lumayan membantu menghilangkan rasa sakitnya. Pelajaran untuk kita semua, mungkin kalau memang ada gejala-gejala ga baik di awal kehamilan, ikutin aja saran dokter ya supaya bisa dideteksi dari awal. Beberapa teman ada yang mengalami hamil BO ga harus melewati rasa sakit kontraksi dan Tindakan kuret bisa dijadwalkan. Tapi semua kejadian ada hikmahnya, minimal saya tahu rasa sakit kontraksi melahirkan itu seperti apa. Malah ada yang bilang kontraksi keguguran itu lebih sakit dari melahirkan. Saya sih gak mau banding-bandingin ya, everyone has their own battlefield. Buat para ibu hamil yang sedang berjuang, atau pasangan yang sedang berjuang untuk punya anak, percayalah Tuhan sudah merencakan semua, kita hanya tinggal berdoa dan berusaha ya. Semoga kita semua cepat disegerakan. Amin.

Comments